Ruang Merah Muda


Di suatu siang aku terbangun namun tak langsung bergegas melakukan sesuatu. Aku diam sejenak menikmati suara dedaunan yang tertiup angin, kicauan burung yang sesekali memeriahkan langit biru di tengah teriknya matahari. Sungguh suasana yang sangat aku sukai. Ya, kalo di suruh memilih aku memang lebih memilih untuk menyendiri di suatu tempat, hanya ditemani kesunyian, dan pikiran-pikiranku yang terbang jauh melayang entah ke masa lalu atau mencoba membayangkan masa yang akan datang. Tapi siang itu pikiranku lebih memilih untuk pergi ke masa yang sudah lewat.
 
Makassar…

Makassar waktu itu sangat panas. Aku duduk di lantai dua sebuah gedung bersama temanku. Tak ku sadari aku sedang menatap seorang lelaki yang duduk di salah satu sudut ruangan sedang mengutak-atik telfon genggam miliknya.

Aku di Makassar bersama teman-teman dalam rangka mengikuti bimbingan belajar. Namun karena kami dari luar kota makanya kami diasramakan di tempat itu bersama dari teman-teman dari kota lain.

Memang dari awal melihatnya dia agak sedikit pendiam di bandingkan dengan teman-temannya yang lain. Aku lebih sering lihat dia menyendiri dengan telfon genggam miliknya atau dengan gitar kepunyaan kepala asrama kami. Namun entah kenapa saat itu aku suka memandanginya. Melihat dia seperti seorang yang pendiam dengan karisma yang bisa dia sebarkan walaupun saat dia diam. Kelihatannya dia sosok yang baik.
Hari-hari berlalu dengan sangat mengasyikkan di asrama. Tak butuh waktu yang lama, berkat kecerewetanku yang kadang-kadang tak bisa di sembunyikan, di tambah dengan teman-teman yang selalu bisa mengimbangi kecerewetanku, akhirnya kita bisa mendapatkan banyak teman di tempat itu. Dengan kepribadian yang berbeda-beda kita melebur menjadi satu. Tak perduli warna kulit, status sosial, agama, dan lain-lain, kita menyatukan semuanya dalam ikatan pertemanan yang hampir mendekati keluarga. Senang rasanya bisa menemukan sosok-sosok mereka disana.

Suatu malam kepala asrama mengadakan rapat dadakan. Seluruh anggota asrama di suruh berkumpul di lantai tiga gedung itu. Kita masuk ke dalam ruangan kelas. Setelah duduk dan bercerita-cerita dengan teman-teman yang lain, akhirnya mataku tertumbuk pada satu titik. Itu dia! Lelaki yang selama ini aku perhatikan, dia disana, duduk di antara anggota asrama yang lainnya, dengan kaus coklat dan celana jeans panjang, kelihatannya dia sedang menikmati dunianya sendiri dengan telfon genggamnya dan mengabaikan keributan dalam ruangan itu. Sesuatu yang aneh terasa di dadaku. Hei! Perasaan apa ini? Apakah tidak terlalu cepat? Bahkan aku belum mengenalnya, tau namanya, dari mana asalnya. Dan malam itu aku tersadar hati tak mengenal waktu, hatiku tak bisa disalahkan karena dia tidak menggunakan otak untuk menjalankan tugasnya. Hatiku telah melakukan tugasnya dengan baik tinggal aku dan logikaku yang memilih langkah selanjutnya. Malam itu pula aku tersadar bahwa hatiku sudah jatuh pada orang yang belum aku kenal.

Saat masuk kelas untuk yang kesekian kalinya aku baru tersadar kalau aku sekelas dengannya. Benar dugaanku selama ini. Dia diam namun dia memiliki sesuatu, dia pintar ternyata. Beberapa kali aku mendengar dia mengajarkan teman yang lain cara untuk menyelesaikan soal dengan caranya saat dia duduk di belakangku. Aku makin mengaguminya. Baiklah, kali ini logikaku kalah dengan hatiku. Dengan sifat extrovert yang aku miliki, aku menceritakan tentang perasaanku pada temanku. Ternyata salah satu teman dari lelaki itu mendengar curahan hatiku. Akhirnya dia bercerita tentang lelaki itu. Mulai dari situ aku tau namanya, dan bahkan aku mendapatkan pinnya. Dengan berani dan mantap aku meng-invite pinnya. Dia terima! Rasanya ingin teriak loncat kegirangan saat itu. Yah beginilah kami, kaum perempuan berperasaan yang baru saja lulus SMA. Hahaha.

Malam minggu, kami merencanakan untuk pergi jalan-jalan ke pantai Losari. Jalan-jalan kami yang pertama, makanya kepala asrama memilih untuk ikut menemani kita semua. Disana kami banyak mengambil foto bersama, dan paling banyak menggunakan telfon genggam milik lelaki itu. Kita sempat mampir ke Art Gallery dan banyak mengambil foto disana. Setelah lelah dan berhubung hari sudah malam kita memutuskan untuk pulang ke asrama. Malam itu menjadi malam yang sangat bersahabat buatku. Tak disangka, saat kita sudah ada di kamar masing-masing dia mengirimkan pesan kepadaku melalui blackberry messenger, dia mengirimkan foto-fotoku  bersama teman-teman yang lain disana. Itu menbjadi awal percakapan kita melalui bbm. Mudah-mudahan perasaan ini berbalas…

Setelah melalui percakapan yang bisa di bilang cukup akrab, aku kira dia akan menyapaku saat kita berpapasan, atau hanya sekedar melemparkan senyumnya. Tapi kenyataannya berbeda. Saat berpapasan tak ada tegur sapa, tak ada lemparan senyum, tak ada lirikan mata atau yang lainnya, jauh dari harapanku. PUPUS! Harapanku serasa hancur lebur. Ternyata terlalu tinggi ekspektasiku, dan terlalu terbawa perasaan aku rupanya. Di tengah perasaan yang kurang baik itu, percakapan kami di blackberry messenger saat tengah malam menumbuhkan lagi harapan yang baru. Begitu terus setiap malam. Sampai akhirnya saat itu tiba, saat dimana segala perasaan yang aku punya aku luapkan kepadanya melalui blackberry messenger. Sangat tak disangka ternyata selama ini dia mempunyai perasaan yang sama denganku. Dia balik menyukaiku. Entah itu hanya susunan kalimat untuk menghargai perasaanku atau apa, entahlah, aku tak perduli, yang aku tau aku senang malam itu. Paling tidak aku tau kalau perasaanku terbalaskan, aku tak berharap lebih. Keesokan harinya salah seorang temannya yang juga temanku memberikan aku secarik kertas katanya dari dia. Aku membukanya di kamarku dan ku dapati jejeran angka dengan beberapa spasi dan tanda tanya besar di bagian paling bawah kertas. Aku membalik kertas itu, ternyata ada instruksinya. Aku mengikuti instruksi itu untuk memecahkan apa yang mau dia coba katakan kepadaku melalui kertas itu. Di bantu dengan salah seorang temanku, akhirnya aku menyadari duluan apa isi kertas itu mendahului temanku. “mau jadi pacarku?” isi dari kertas tersebut. Tiba-tiba aku berteriak, antara kaget dan senang, entahlah, temanku kaget dan bertanya apa sebenarnya maksud dari kertas itu. Aku hanya terdiam dengan muka memerah dan senyum lebar yang menghiasi wajahku. Aku tak langsung menjawab, aku tak keluar kamar sampai malam tiba. Tiba-tiba logika memainkan perannya, aku baru saja mengenalnya, menurutku itu waktu yang cukup singkat, apakah benar yang akan terjadi kalau aku menerimanya dan kita pacaran? Tapi perasaan menunjukan eksistensinya, mengabaikan logika yang sedang bermain di pikiran dan hatiku, perasaanku mendominasi malam itu. Aku ambil telfon genggamku dan mengirimkan blackberry messenger kepadanya. Setelah melalui basa-basi sedikit akhirnya aku menerimanya. Kita pacaran.

Melalui hari-hari yang menyenangkan bersama kekasih hati yang selama ini di idam-idamkan dalam ‘satu atap’ (karena kita di asrama yang sama), rasanya indah sekali. Kalian taukan rasanya jatuh cinta, bagaimana cinta bisa mengubah segalanya menjadi indah, bagaimana cinta bisa mengalahkan ego dan logika. Ya, aku sedang di tahap itu. Bahkan aku sampai lupa kalau tidak lama lagi kita akan berpisah ke kota kami masing-masing, kembali kekehidupan kami semula di kota asal, intinya kita akan ‘berpisah’. Saat aku tesadar, lagi-lagi logika memainkan perannya apakah aku akan bertahan dengan hubungan jarak jauh? Aku pernah melalui hubungan jarak jauh sekali,  namun berakhir dengan sangat tidak baik. Apa aku akan memberanikan diri untuk memulainya lagi? Jangan bodoh! Jaga hatimu dari rasa yang akan lebih sakit dari pada berpisah secara baik-baik! Namun apa daya, dalam kasus ini perasaanku sangat memegahkan dirinya, dia tidak mau ditundukan oleh logika. Akhirnya kami memutusan untuk menjalani ldr. Awalnya berjalan lancar, kami melewati satu bulan dengan ldr. Tapi suatu hari semuanya berubah. Aku yang mulai terbiasa dengan komunikasi yang tidak lancar lama-kelamaan menjadi bosan, rasanya kembali seperti dulu, saat aku tidak memilikinya, memeliki hatinya. Namun hatiku masih berpegang kuat dengan perasaanku yang masih begitu dalam terhadapnya. Aku mencoba diam. Namun perasaan aneh lainnya datang, pikiran-pikiran negative mulai menyerang otakku, aku jadi parno, selalu bertanya jika dia punya kekasih lain disana. Sepertinya hubungan ini mulai tidak baik. Sepertinya disaat seperti ini perasaanku yang dulunya mendominasi dan maunya menang sendiri kalah. Logikaku seakan menyinggung “aku sudah memperingatkan tapi kamu membantah!”. Tak enak dengan perasaan yang begini-begini terus aku beranikan diri untuk berbicara padanya tentang hal ini. Tak disangka dengan sangat mudahnya dia bialng kalau lebih baik akhiri saja semuanya. Perasaanku berada di titik terendahnya, seperti tiarap, menyerah, merasa bersalah. Dia benar-benar pergi. Semuanya berakhir. Aku merasa hancur, entah dengan dia. Malam itu, dalam ruang merah mudaku hanya ada gejolak, rasa pilu, sakit. Tanpa adanya air mata yang membasahi pipiku aku tersadar, selama ini aku hanya terlalu cepat jatuh hati kepada seseorang. Mungkin hal itu yang selalu membuat hubunganku kandas di tengah jalan. Tapi sekali lagi aku tak bisa menyalahkan ruang merah mudaku, tempat dimana semua perasaan terbentuk, dari senang, sedih, galau, kasihan, empati, dan cinta. Suatu bangun ruang yang biasanya digambarkan dengan warna merah muda atau merah, yang kita sebut hati ini nampaknya tak bisa disalahkan atas kandasnya hubunganku. Hanya saja seharusnya aku juga mendengarkan logika yang sering datang saat hati ini mulai merasakan sinyal-sinyal cinta.

Untuk kamu, tak pernah terbesit di hati ini untuk melupakan apalagi membencimu. Aku bahkan mau berterimakasih. Yang pertama terimakasih atas waktu dan kenangan yang pernah kita buat bersama, dan terimakasih, darimu, dari kisah kita dulu aku tersadar bahwa selama ini kelasahanku adalah membiarkan logikaku kalah dengan perasaan yang belum pasti asalnya, aku juga belajar untuk tidak melakukan hal yang sama lagi di kemudian hari. Aku menyimpan semua kenangan kita bukan untuk kuingat kembali dan menangisinya, tapi untuk kuingat kembali dan akan tersadar kalau kamu pernah singgah di ruang merah mudaku, dan kamu sudah mengajariku untuk menjadi lebih baik.

Jangan khawatir, kau dan aku akan bermetamorfosis menjadi dua personal yang jauh, jauh lebih kuat ketika kita berjalan masing-masing. Jangan lupa untuk kembali berdiri diatas kedua kakimu, mulai berjalan lagi, nikmati mentari yang menyapu wajahmu, tersenyumlah, syukuri kehidupanmu yang begitu indah meski aku tidak lagi ada di sebelahmu untuk menggenggam jemari yang sempat rapuh itu.” – Fiersa Besari (Jemari yang Sempat Rapuh)

Apa kabar denganmu? Aku harap aku dan kamu akan baik-baik saja walau sekarang aku sedang belajar untuk berdiri diatas kedua kakiku dan mulai berjalan lagi…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

12 (Best Friend Forever)

Patah Hati Terhebat

A Sucker for LOVE (JANGAN DIBACA)