12 (Best Friend Forever #6)
Hari
ini, 18 Juni 2015, betapa saya merasa sangat bersyukur sama Tuhan, saya di
kasih sahabat-sahabat yang sangat luar biasa. Sampai detik ini, setelah melalui
4 tahun perjalanan 12 yang gak sedikit lika-likunya kita masih bisa sama-sama.
Ketawa sama-sama, jalan bareng, galau sama-sama. Oh iya, fyi aja, sekarang kita
semua udah lulus SMA loh, kita udah mau jadi mahasiswa. Gak berasa deh. Cerita
ini saya mulai dari cerita-cerita waktu 12 masih SMP, sampai sekarang 12 masih
bisa ngasih cerita kebersamaannya. Karena itu saya bersyukur banget punya
sahabat-sahabat kayak mereka. Tepatnya tanggal 15 Mei 2015 kita semua sudah
resmi lulus dari SMA kita masing-masing dan resmi melepaskan almamater
kebanggaan kita. Terimakasih untuk 3 tahun yang sangat luarbiasa. Banyak hal
yang 12 pelajari selama terpisah-pisah di SMA, but thank God kita masih bisa
tetap sama-sama.
Oh
iya, mau cerita nih, baru aja 12 berduka lagi. Ayah dari Emot meninggal dunia,
tepatnya tanggal 6 Juni 2015. Saya menegerti benar rasanya di tinggalkan
orangtua untuk selamanya. Berat memang, sakit, sedih sekali, tapi entah kenapa
saya melihat Emot sangat kuat untuk menghadapi kehilangan itu. Saat tau tentang
kabar kalau ayahnya Emot meninggal dunia, kita anggota 12 langsung berkumpul
dan menuju ke rumah Emot. Sampai disana saya lihat jelas matanya yang bengkak
habis menangis, tapi dengan begitu hebatnya dia bisa menyimpan kesedihannya itu
didepan kita semua. Akhirnya kami memutuskan untuk gak mau bikin Emot sedih
pada saat itu, karena kita pikir Emot butuh kita sebagai penghiburan dan
penguatan buat dia.
Baru
aja kita ngelewatin 12 Juni. Yap, ulangtahun dari salah satu anggota 12,
Bondeng. Entah kenapa ulangtahunnya yang ke 18 ini terasa sangat berkesan.
Waktu itu acaranya di rayakan di restaurant SOLARIA. Bondeng nraktir anak-anak
12 disana. Walaupun waktu itu Tebu tidak bisa datang karena ada kepentingan
yang harus dia urus, pada saat itu saya kembali disadarkan dan lagi-lagi merasa
bersyukur, saya punya sahabat-sahabat terhebat seperti mereka. Saat-saat
bersama mereka selalu terasa indah, karena selalu ada tawa hangat di setiap
situasi apapun. 4 tahun bersama melewati suka dan duka, tawa dan tangis,
rasanya hebat mengingat sebelum 12 lulus SMP selalu ada yang bilang “palingan
juga nanti SMA semua sudah baku lupa. Baku lewatpun te ada baku tegur.” Kita
bisa mematahkan kalimat itu, karena kenyataannya sampai kita lulus SMA pun kita
masih bisa sama-sama.
Sekarang
semuanya lagi sibuk buat nentuin masa depan, sibuk daftar kuliah, bahkan udah
ada yang keluar kota untuk daftar kuliah disana. Gak kebayang ya, lagi-lagi 12
akan pisah. Mungkin aja bukan hanya beda universitas, tapi beda kota, bahkan
beda pulau. Kira-kira kalau udah pada kuliah 12 masih akan kayak sekarang gak
ya? Jujur saya sedih kalo kita harus pisah lagi. 12 itu berarti banget buat
saya. 12 itu rumah kedua buat saya. Tempat saya nangis, ngadu, ketawa, bahkan
saat saya butuh pelukan mereka yang meluk saya dan bilang “kau pasti bisa!”
mereka itu semangat buat saya. Bahkan saat saya sudah sangat bosan dengan kota
ini, hanya 12 yang selalu bisa bikin saya bertahan di kota ini. Tapi demi masa
depan kita masing-masing saya gak bisa egois kalaupun memang harus pisah.
Semoga 12 bisa sukses dimanapun nantinya kita berada. Amiiiiinnnn:).
Komentar
Posting Komentar