Nay's
Mata Naya
masih lekat memandang awan-awan yang berlalu lalang di bawahnya. Dia sedang ada
dalam pesawat yang akan membawanya pergi jauh meninggalkan kota yang sudah
selama 10 tahun belakangan ini menjadi tempat tinggalnya. Pikirannya melayang
menuju suatu waktu saat dia dan sang Ayah sering beradu mulut karena kesalah
pahaman. Mulai dari masalah sepele sampai masalah besar, semua hal yang dia
lakukan rasanya selalu salah di mata sang Ayah. Hal itulah yang membawa Naya
memilih untuk meninggalkan kota itu dan sang Ayah serta istri baru bersama
“keluarga barunya”.
Ibu kandung
Naya sudah meninggal 10 tahun lalu karena sakit yang dideritanya. Setelah sang
Ibu meninggalkan Naya dan Ayahnya, mereka memilih untuk pindah dan menjalani
hidup di tempat yang baru dengan suasana yang baru. Bagi Ayah Naya mungkin
keputusan itu tepat untuk menjauhkan diri dari rasa sedih yang berkelanjutan,
namun tidak bagi Naya. Naya yang 10 tahun lalu masih berumur 12 tahun masih
sering merasakan sedih dan rindu yang sangat mendalam kepada sang Ibu. Di umurnya
yang masih sangat muda, dimana seorang anak perempuan sedang membutuhkan sosok
Ibu untuk menemaninya melewati masa transformasi dari kanak-kanak ke remaja,
muda dan dewasa, malah di saat yang sama Naya harus melewatinya sendirian. Semenjak
pindah, Ayah Naya sangat sibuk dengan pekerjaannya yang terus menanjak. Di satu
sisi Naya merasa senang, namun terkadang di sisi lain Naya merasa sangat
merindukan dan membutuhkan sang Ayah untuk membantunya melewati masa itu.
Kesibukan sang Ayah membuatnya jarang bertemu dan berkomunikasi dengan Naya.
Sampai akhirnya beberapa Tahun kemudian Ayahnya bertemu dengan seorang
perempuan di tempat kerjanya dan menjalin hubungan lalu memutuskan untuk
menikah setelah 6 tahun kepergian sang Ibu. Naya merasa bahagia karena akhirnya
sang Ayah bisa kembali bahagia dengan keberadaan istri barunya dan juga Naya.
Katanya waktu itu “Ayah seneng sekarang ada kamu sama tante Ratih, rasanya
keluarga Ayah balik lagi kayak dulu.” Naya hanya bisa tersenyum saat sang Ayah
berkata seperti itu sesaat sebelum Ayahnya melangsungkan pernikahan, waktu itu
umur Naya sudah menginjak 18 tahun. Tante Ratih adalah Ibu tiri Naya.
Beberapa
tahun setelah pernikahan Ayah dan tante Ratih, Naya tidak merasakan adanya
perbedaan. Tetap saja tidak akan ada yang bisa menggantikan sosok sang Ibu buat
Naya, sesempurna apapun perempuan itu bagi Ayah! Batin Naya. Malahan sang Ayah
berubah. Dia jadi lebih sering marah dan parahnya lagi Ayah Naya tidak
segan-segan memukul Naya jika mereka sudah beselisih paham. Tidak jarang Naya
merasa ingin sekali kabur dari rumahnya, entah apa yang membuat sang Ayag
menjadi sepertdi itu. Entah tekanan pekerjaan, atau alasan lain yang tidak
pernah Naya ketahuai karena memang mereka yang jarang bahkan tidak pernah punya
waktu untuk sekedar duduk bersama dan bercerita layaknya keluarga pada umumnya.
3 tahun pernikahan Ayah dan tante Ratih akhirnya mereka dikaruniai seorang anak
laki-laki yang berarti terpaut 21 tahun jarak umurnya dengan Naya. Perhatian
sang Ayah sudah sepenuhnya tercurah untuk tante Ratih dan anak mereka yang
dinamakan Samuel. Naya yang waktu itu masih duduk di bangku kuliah semester 6
hanya terus mendapatkan kucuran dana tanpa merasakan kembali kucuran kasih
sayang dari sang Ayah.
Dan disinilah
dia sekarang. Dalam pesawat yang membawanya menuju kembali ke tanah
kelahirannya.
...
Komentar
Posting Komentar