Nay's (1)
...
Lagu Man
Upon The Hill dari Stars and Rabbit masih mengalun kencang di telinga Naya
melalui earphone yang dikenakannya
saat seorang pelayan sebuah café menepuk punggungnya untuk menawarkan menu,
dengan segera Naya melepas earphonenya.
“Selamat
siang mbak, mau pesan apa?” tanya si pelayan.
“Saya pesen
green tea lattenya aja dulu satu ya mas.” Jawab Naya sambil mengembalikan buku
menu yang diberikan pelayan tadi. Setelah menulis pesanan Naya si pelayan
langsung meninggalkan Naya dengan sebelumnya berucap “Terimakasih, ditunggu ya
mbak pesanannya.”
Sudah 2 hari
Naya sampai di tanah kelahirannya. Untuk saat ini dia masih tinggal bersama
tantenya (adik dari Ibu Naya). Dia sempat berpikir untuk mencari kost-kostan
namun tantenya memaksanya untuk tinggal bersamanya saja. Sekarang dia sedang
berada di sebuah café untuk bertemu dengan teman kecilnya semasa SD dulu.
Sekitar
beberapa menit setelah memesan minumannya, akhirnya pesanannya datang juga.
Hari itu café yang didatangi Naya kelihatan sepi. Hanya ada beberapa pengunjung
yang bisa dihitung dengan jari. Terakhir Naya berada di kota itu dia tidak
ingat kalau café itu sudah ada. Pasti ini café baru. Batin Naya. Dia mengenakan
kembali earphonnya dan mengambil buku
novel dari dalam tasnya. Beberapa detik setelah itu Naya sudah tenggelam dalam
cerita karangan Fiersa Besari dalam buku novelnya yang berjudul Konspirasi Alam
Semesta.
Naya baru
akan mengambil cangkir green tea lattenya saat dua orang muda mudi sebayanya
berdiri tepat di depan mejanya. Seketika itu Naya melepas earphonenya dan berdiri lalu memeluk pemuda di depannya.
“Vin! Gila
gue kangen banget sama lo! Apa kabar?” kata Naya dalam pelukan pemuda itu yang
tanpa canggung membalas pelukannya. Namanya Alvin, teman kecil Naya. Lebih
tepatnya sahabat. Dari TK sampai SD Naya dan Alvin tidak pernah terpisahkan.
Kedua orang tua mereka juga memilih untuk menyekolahkan mereka di sekolah yang
sama. Namun saat Naya harus pindah semenjak Ibunya meninggal mereka harus
berpisah dan hanya dapat berkomunikasi melalui media sosial. Dan sekarang
disinilah mereka berdua bertemu. Setelah melepaskan pelukannya dan
mempersilahkan Alvin beserta temannya untuk duduk barulah mereka mulai
berbincang-bincang soal kabar, kuliah, kehidupan, dan lain sebagainya.
“Oh iya Nay,
kenalin dulu nih cewek gue, namanya Kumala. Sampe lupa gue ngenalin dia ke
elo.” Kata Alvin. Naya menjulurkan tangannya tanda ingin bersalaman yang
langsung dibalas oleh Kumala ditambah dengan senyuman yang ramah.
“Panggil
Mala aja mbak.” Katanya masih dengan senyuman yang sama.
“Loh kok
mbak sih? Juniornya Alvin yah? Masih kuliah?” tanya Naya yang kaget di panggil
dengan sebutan “mbak”
“Iya, aku
juniornya Alvin di kampus. Masih kuliah semester 5 sekarang mbak.” Jawab Kumala
malu-malu.
“Oalah
pantesan. Hehehe. Yaudah salam kenal yah Mala.” Balas Naya dengan senyuman
lebar di pipinya.
Sementara
mereka bertiga masih bercerita-cerita tentang banyak hal (kebanyakan masa lalu
Naya dan Alvin yang lucu-lucu) pelayan yang tadi melayani Naya datang dengan
membawa nampan berisi 2 gelas yang kemudian diletakan di atas meja mereka.
Padahal Alvin dan Kumala belum memesan sama sekali. Naya pun heran melihatnya.
“Eh, makasih
ya Ka.” Kata Alvin saat pelayan itu meletakan dua buah gelas di atas meja
seolah-olah sudah kenal dekat dengan pelayan tersebut. “Nih Ka, kenalin temen
kecil gue. Sahabat gue dulu dari TK sampe SD.” Lanjut Alvin. Ternyata Alvin
memang kenal dengan pelayan tersebut.
“Reka.” Kata
si pelayan yang menatap Naya dengan sedikit senyuman tersungging di bibirnya.
“Kanaya
Aksara. Panggil Nay aja.” Balas Naya yang menatap Reka balik dengan senyum
lebarnya. Tak ada jabatan tangan.
Setelah
perkenalan itu Reka duduk bersama mereka.
“Jadi Reka
ini temen kuliah gue dari semester satu Nay. Kita kan sama-sama baru lulus trus
katanya dia bosen nganggur gitu yaudah gua kasihin aja kerjaan disini jadi
pelayan eh dianya mau. Padahal bokapnya orang kaya tapi dianya malah jadi
pelayan.” Jelas Alvin sambil tertawa.
“Ya abis
bosen juga kalo harus diem terus di rumah. Mumpung belom ada kerjaan tetap jadi
gue isi aja waktu kosongnya kerja disini. Itung-itung nyari pengalaman lah.” Reka
melakukan pembelaan.
“Hmm gitu.
Keren tuh. Rajin dia. Gak kayak lo, dari dulu tabiatnya males. Iya kan La?”
Kata Naya menyinggung Alvin. Yang disinggung hanya tertawa.
“Iya mbak.
Dia mandi aja kadang males. Heran aku sama dia.” Jawab Kumala seperti
bersekongkol dengan Naya untuk memojokan Alvin.
“Eh iya, by the way ini cafenya Mala loh. Makanya
gue bisa ngasih pekerjaan disini buat si Reka tuh. Hahaha.” Jelas Alvin lagi.
“Wah keren
kamu La. Belom lulus aja udah ada usahanya. Harusnya kamu jangan mau sama
Alvin, entar dia malah morotin kamu.” Naya berbicara dengan nada berbisik pada
Kumala supaya seolah-olah Alvin tidak dapat mendengarnya. Kumala tertawa dan
setelah itu Alvin menoyor kepala Naya.
Mereka
banyak bercerita bahkan sampai malam. Tentu saja Reka sudah tidak duduk bersama
mereka karena harus melayani pengunjung lainnya.
Malam itu
benar-benar seru buat Naya. Selain bertemu sahabat kecilnya, dia mendapatkan
dua teman baru yaitu Kumala dan Reka.
...
Komentar
Posting Komentar