Nay's (2)
...
Selama di
kota kelahirannya Naya tinggal bersama tantenya yaitu adik kandung dari Ibu
Naya. Namanya tante Hani. Tante Hani adalah wanita berumur 33 tahun dan belum
menikah. Mengakunya belum bertemu dengan pria yang cocok dengannya dan masih
fokus dengan pekerjaannya yang sekarang. Pantas saja tante Hani masih memiliki
jiwa muda. Mereka berdua tinggal di suatu perumahan dalam rumah model minimalis
dengan dominasi cat putih yang bersih dan rapih. Di depan rumah terdapat lahan
yang tidak terlalu luas dan dimanfaatkan sebagai taman kecil yang ditumbuhi beberapa
tanaman dan bunga-bunga yang cantik.
Malam itu
Naya sampai di rumah pukul setengah delapan malam yang langsung disambut oleh
tante Hani.
“Dari mana
aja Lu? Belom mandi deh pasti. Mau tante bikini air panas gak buat mandi?”
Ilu adalah
panggilan keluarga dari Naya masih kecil. Entah dari mana kata “Ilu” itu
muncul, padahal nama lengkapnya adalah Kanaya Aksara, tidak ada unsure Ilu sama
sekali. Tapi begitulah panggilannya dari kecil kalau di rumah.
“Nanti aku
bikin sendiri aja tan. Aku tadi dari cafenya temen SD aku. Ketemuan disana sama
dia sampe lupa waktu keasikan ngobrol hehehe.” Jawab Naya sambil melepas
sepatunya dan menaruhnya di rak sepatu.
“Oh sahabat
kamu yang waktu SD sering nakal itu yah. Cowok kan? Hmm siapa namanya? Anang?”
cerocos tante Hani dengan wajah menarawang mengingat-ingat nama teman Naya.
“Bukan Anang
tante. Tapi Alvin. Hahaha.” Naya membenarkan. “Yaudah aku ke dapur dulu ya, mau
masak air trus mandi deh.” Lanjutnya sambil berjalan ke dapur.
“Yaudah. Eh
tunggu dulu udah makan malem belom? Mau sama-sama aja apa gimana?” tante Hani
bicara setengah berteriak dari ruang tamu.
“Hmm
sama-sama aja. Aku mandi bentar gak lama yaa.” Jawab Naya sambil menongolkan
kepalanya dari pintu dapur lalu tersenyum.
Setelah Naya
mandi ia cepat-cepat berjalan menuju meja makan dan mendapati tante Hani sedang
menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
“Si Anang
itu apa kabarnya?” tanya tante Hani membuka percakapan.
“Hahaha
Alvin tante bukan Anang. Baik sih dia. Makin ganteng.” Jawab Naya.
“Tante inget
tuh dulu pas kamu masih SD terus tante masih tinggal sama kamu, kamu tuh pulang
sekolah sering nangis katanya ditinggalin sama si Alvin di depan pangkalan
ojek. Hahaha.”
“Iya yah,
padahal mah pangkalan ojek udah deket banget sama rumah, malahan rumahnya Alvin
udah kelewatan tapi masih mau nemenin aku jalan sampe pangkalan ojek jadi dia
harus balik lagi untuk pulang ke rumahnya. Hahaha.”
“Dia itu
baik yah sebenernya cuma kamunya aja kali dulu yang cengeng nangis mulu.
Hahaha” tambah tante Hani. Belum sempat Naya membalas, tante Hani bertanya
“Terus si Alvin itu udah ada pacar belom?”
“Udah tante. Orang ganteng gitu. Tadi juga aku
ketemuannya sama pacarnya kok. Sama temennya si Alvin juga. Cowok.” Dan
percakapanpun terus berlanjut sampai makan malam mereka selesai.
Setelah
makan malam, tante Hani pamit untuk pergi ke kamarnya dan menyelesaikan tugas
lemburnya yang dia bawa pulang sedangkan Naya membersihkan meja makan dan
mencuci piring.
Sesudah
menyelesaikan pekerjaannya di dapur Nayapun kembali ke kamarnya dan merebahkan
badannya di kasur. Matanya tertutup namun tidak terlelap. Dia memikirkan
pertemuan pertamanya dengan seorang lelaki. Lelaki yang saat ia tersenyum untuk
pertama kalinya kepada Naya dan seketika itu juga mampu membuat dunianya
berhenti untuk sejenak dan kembali lagi berputar. Lelaki yang terlihat lebih
pendiam darinya namun tidak juga kaku. Lelaki yang tadi menepuk pundaknya hanya
untuk berkata “Selamat siang mbak, mau
pesan apa?” saat memandang wajahnya Naya harus berhenti bernafas beberapa
detik untuk kemudian mulai mengatur nafasnya kembali. Lelaki itu adalah Reka.
...
Komentar
Posting Komentar