Jika "Iya"
Aku tahu menunggu adalah hal yang paling menyebalkan. Menunggu
menjadi hal yang sebisa mungkin dihindari, buatku dan mungkin juga buatmu.
Menunggu itu meresahkan. Menunggu itu membingungkan. Menunggu
itu membosankan. Menunggu itu lama. Menunggu itu membuatku tidak sabar. Apa lagi
menunggu untuk hal yang tidak pasti adanya. Misalnya sebuah harapan.
Teruntuk kamu, yang aku tidak tahu apakah kamu masih menyimpan
rasa yang sama, apakah kamu masih menyimpan harapan yang sama, apakah kamu masih
menunggu dengan hati yang sama sampai sekarang. Tapi kalaupun jawaban dari
semua pertanyaan itu adalah “iya” aku hanya ingin berterima kasih atas segala
yang telah kamu korbankan dalam penantianmu.
Dalam pencarianku, aku tidak pernah bermaksud untuk membuatmu
menunggu begitu lama. Bukan maksudku untuk membiarkanmu diam dengan semua
harapan yang ada di hati atau mungkin hanya ada di pikiranmu. Bahkan dengan
kasar aku bisa mengatakan bahwa bukan salahku jika sampai sekarang kamu masih
menunggu, aku tidak pernah menyuruhmu untuk terus berada disitu! Pergilah jika
ingin. Aku tidak pernah menjanjikan apa-apa.
Namun sekali lagi. Terima kasih.
Aku tidak pernah tahu dalam penantianmu apakah tempat kosong
yang katanya kamu siapkan untukku itu pernah terisi oleh orang lain atau tidak.
Aku juga tidak pernah tahu apakah dalam penantianmu pernah kamu rasakan jenuh
dan berniat untuk menyerah. Bahkan aku tidak pernah tahu sebenarnya sudah
selama apa penantianmu.
Tapi yang aku tahu, aku akan tetap berterima kasih untuk kamu
yang terus ada selama proses pencarianku dan tiba-tiba menghilang atas dasar
tahu diri saat pencarianku membuahkan hasil. Lalu datang kembali saat kamu tahu
aku lagi sedang tidak baik-baik saja. Terima kasih untuk kalimat “tetap kamu sa.”
Yang berhasil membuatku sedikit tersenyum walaupun keadaan hati saat itu sedang
kacau. Dan terima kasih untuk tidak pernah sama sekali menyalahkanku atas
penantian yang kamu jalani.
-Eliakand,
Pebruari 2018.-
Komentar
Posting Komentar