"Teman 48jam"
Hei kalian. Sudah
rindu belum? Seharusnya saya, kalian, kita bukan “teman baru” lagi kan.
Dua hari
bersama walaupun tidak 48 jam sama-sama rasanya sudah cukup untuk mengakrabkan
kita semua ya.
Iya. Seharusnya
kita bukan “teman baru”. Sudah dari tahun 2015 kita bersama di fakultas hukum. Cuma
ya memang terlalu banyak faktor yang membuat kita sepertinya hampir tidak
pernah saling menyapa. Sampai hari itu tiba. Kita semua ditempatkan pada satu
kegiatan yang saya yakin di antara kalian pasti ada yang ogah-ogahan saat ditunjuk
sebagai delegasi untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Dari pagi
yang masih duduk terpisah-pisah sampai akhirnya jam makan siang tiba, kita
berkumpul dengan alasan “kita kan satu fakultas, sama-sama dari hukum ayok
kumpul bareng”.
Jujur ya,
ada beberapa atau bahkan hampir semua dari kalian yang baru saya kenal siang
itu. Awalnya agak segan bertegur sapa, saya memang pemalu (iya elsa iya
hahaha), tapi siang itu rasanya salah kalau saya hanya diam di antara kalian
yang begitu cerewet dan sangat aktif. Rasanya seru untuk ikut nimbrung
bercerita bersama kalian dengan topik yang mungkin tidak semuanya saya ketahui.
Saat itu saya merasa bersyukur. Saya mendapat teman baru lagi. Saya senang
kenal sama kalian.
Kalian orang-orang
baik. Bahkan dari lembaga yang paling saya segani sekalipun, hei Rizal, kamu
juga orang baik. Kalian semua orang-orang yang gampang bergaul, gampang
berbaur, tidak sombong.
Kegiatan hari
kedua, saya, Wiwi dan Febi memilih untuk pindah tempat duduk dan berkumpul
bersama kalian. Hei anak muda hahaha, kalian orang-orang yang kritis. Melihat kalian
begitu semangat saat mengomentari kebijakan-kebijakan panitia yang “agak aneh”.
Kalian orang-orang yang berpikiran terbuka. Saat apa yang sudah kita suarakan
seakan diredam dan terasa dibungkam sampai suara lain terdengar lebih keras dan
lebih didengarkan, kalian (lebih tepatnya kita) merelakan keputusan yang
diambil karena “orang-orang berhak berpendapat, saat pendapatmu dihargai namun
tidak dipilih sebagai keputusan akhir, itulah musyawarah”. Tapi kalian juga
pembangkang. Jiwa bebas kalian masih sangat membara. Keluar dari kamar hotel
tengah malam, menggedor-gedor pintu kamar saya dan Febi untuk meminta kopi dan
gula. Duduk-duduk di coffee shop
tengah malam hanya untuk merokok sampai harus ditegur security. Kalian itu
liar. Tapi itulah yang anak seumuran kita lakukan. Rasanya seru kan? YOLO!
Hahahaha.
Sampai
kegiatan selesai. Kita berpisah. Pulang ke rumah masing-masing.
Pada satu
kesempatan yang lalu kita berkumpul lagi walau tidak selengkap pertama kali
bertemu. Tapi semuanya terasa lebih dekat.
Saya senang
bisa kenal kalian. Senang sekali. Ini bukan berlebihan, hanya saja saya, yang
menulis kembali kisah ini sejujurnya adalah orang yang tidak gampang akrab
dengan orang baru. Saya orang yang paling susah untuk memulai perkenalan dengan
teman baru. Tapi kalian membuat kisah pertemanan ini seperti tanpa perkenalan. Saya
tidak canggung saat pertama kali bertegur sapa dengan kalian. Saya tidak harus
merasa malu saat mulai banyak bercerita dengan kalian. Kalian orang baik!
Dan sepertinya
kegiatan itu meninggalkan banyak bekas, rasa dan cerita.
Ayok kumpul
lagi. Jangan sombong-sombong sama saya ya:)
Teruntuk Wiwi,
Febi, Nando, Endy, Aldhy, Rizal, Ayub, Alwi, Iyan dan semua angkatan III yang
tidak saya tuliskan namanya. Mungkin kita belum sempat bercerita lebih jauh:)
Komentar
Posting Komentar