Sepotong Chat Tengah Malam

Silahkan pergi jika bosan, silahkan pergi jika tak nyaman, silahkan pergi jika ingin meninggalkan.

Aku tidak pernah memaksa kamu untuk bertahan dalam keadaan sesulit apapun. Memintapun rasanya tak pantas. Aku sadar apa yang menjadi dan tidak menjadi hakku.

Kisah aku dan kamu terlalu jauh untuk disebut kisah kita. Aku mengerti dengan kesibukan yang selalu saja aku dan kamu sebut-sebut dalam sepotong chat tengah malam. Bahkan aku sangat mendukung kesibukanmu. Bukankah karena itu awalnya aku bisa mengenalmu?

Eits, tunggu dulu. Ada apa dengan tulisanku di atas? Apa yang sudah terjadi selama hampir dua bulan belakangan? Bukankah aku berjanji untuk terus mempertahankan logikaku agar tidak terkalahkan oleh perasaan? Tapi kenapa tulisan di atas seperti orang yang sedang menceritakan tentang perasaannya yang hampir menyerah?

Ya! Aku sudah berjanji untuk berusaha mempertahankan logikaku karena aku sudah lelah selalu dipecundangi oleh perasaan yang ujungnya menyebabkan sakit.

Jujur. Mungkin pernah perasaanku ini merangkak naik dari tempatnya, dimana aku menempatkannya di bawah logika dalam kisah ini. Beberapa kali aku jatuh, namun aku bisa bangkit lagi.

Dan hei! Asal kalian tau, sampai saat ini, logikaku masih panas-panasnya bertempur melawan perasaanku. Dan kalian tau rasanya seperti apa? Aneh! Baru kali ini aku membiarkan pertempuran antara logika dan perasaan terus berlangsung. Seperti yang kalian tau (baca: seperti kisah-kisah di tulisan sebelumnya), aku selalu membiarkan perasaanku menang dengan mudahnya tanpa ada perlawanan sengit yang diberikan oleh logika. Tapi kali ini berbeda.

But by the way, terimakasih buat kamu yang sudah sudi datang jauh-jauh untuk setidaknya mampir ke ruang merah mudaku. Kamu luar biasa. Ingat saat aku pernah bilang kalau kamu adalah “bukan kisah patah hati” pertama yang aku post di blog ini? Aku sadar kalau kamu memang bukan kisah patah hati pertama aku, tapi kamu adalah kisah pertempuran tersengit pertama. And fyi sampai tulisan ini aku post pertempuran itu masih berlanjut.

Aku tau akhirnya akan seperti apa, makanya aku janji akan terus memperjuangkan logikaku. Demi kamu, demi perasaanmu.

Mungkin kalian yang nantinya akan membaca tulisan ini akan berpikir kalau aku adalah orang bodoh. Mungkin sebagian dari kalian akan berkata “hei! Kamu yang memegang kendali dalam hidupmu! Kalo memang mau memenangkan logika, menangkanlah logikamu!”. Ya aku tau itu. Tapi saat ini, biarkan aku merasakan prosesnya. Karena dari proses aku belajar. Dari proses pula aku bisa menghargai perjuangan.

Jangan serius-serius, ini hanya kisahku.

Dan, hei kamu! Apa kabar? Aku rindu…



Setidaknya tulisan ini jujur…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

12 (Best Friend Forever)

Patah Hati Terhebat

A Sucker for LOVE (JANGAN DIBACA)