Ruang Kosong

Sepi itu kosong
Sepi itu diam
Sepi itu sendu
Sepi itu sendiri

Semenjak 9 tahun yang lalu aku tak pernah suka sepi. Tak ingin rasanya aku berada di kesendirian. Sendu rasanya kalau tidak ada seorangpun yang bersamaku dimanapun itu. Ya, semenjak mama meninggal. Sepi membuatku mengenang hal-hal yang mengundang pilu. Sepi membuatku mengenang hal-hal yang dapat menghujaniku dengan rasa sakit. Sepi membuatku mengenang hal-hal yang membuat penyesalan dalam hidupku. Karena sepi itu sendiri, maka tak ada seorangpun yang dapat membangunkan ku dari kenangan menyakitkan. Aku takut sepi. Aku takut sendiri.

Namun sekarang saat usiaku sudah 19 tahun. Saat aku mengerti apa itu cinta, apa itu patah hati, apa itu kehilangan, apa itu sepi, agaknya berubah pikiranku mengenai sepi.

Sepi membuatku merenungi kehidupanku selama ini. 19 tahun menginjakkan kaki di dunia, apakah sudah ada yang aku lakukan paling tidak kontribusi kecil untuk Bumi Pertiwi ini. Mungkin aku hanya seorang perempuan yang selalu mencoba untuk tidak membuang sampah sembarangan sebisaku, tapi paling tidak aku sadar akan apa yang aku lakukan. Atau mungkin aku hanya seorang perempuan yang selalu mematikan air dan listrik saat sudah tidak terpakai, saat orang rumah yang lain membiarkan itu terjadi, paling tidak mereka punya aku untuk membantu generasi setelahku selamat dari krisis air yang mungkin saja akan terjadi di masa depan.

Sepi membuatku tahu seberapa aku membutuhkan seseorang dalam kehidupanku. Saat aku terlalu senang dan terlena dengan mereka-mereka yang selalu ada disisiku -tanpa mengurangi penghargaanku untuk mereka yang selalu ada- , saat sepi datang, sepi membuatku berpikir, betapa aku membutuhkanmu yang suatu saat nanti akan selalu bisa membuatku tersenyum. Entah dengan tingkah laku konyolmu, kalimat gombalmu, perlakuan romantismu, atau bahkan wajahmu saat marah sekalipun.

Sepi membuatku menghargai rindu. Saat kamu belum disini, atau saat kamu pergi, atau mungkin saat nanti kamu meninggalkan ku untuk kemudian tak kembali lagi, sepi membuatku mengingat kembali. Bukan ingatan tentang seberapa sakitnya ditinggalkan, tapi ingatan tentang seberapa bahagianya aku saat kamu disini, seberapa bahagianya aku bisa bertemu denganmu, seberapa bahagianya aku saat mengenang kisah kita dengan ribuan senyum yang tak pernah luntur saat sepi, dan seberapa bahagianya aku saat melihat kamu bahagia dengan atau tanpaku.

Karena sepi itu sendiri, sepi itu diam, dan sah-sah saja merindu dalam diam saat dia sudah tak lagi menjadi milikmu.

Sepi mebuatku semangat untuk menghidupi hidup ini dengan lebih baik lagi.
Sepi membuatku mengerti arti kehadiranmu, sementara atau selamanya.

Sepi membuatku menghargai rindu, saat aku sendiri, saat aku sepi.


Eliakand

Komentar

Postingan populer dari blog ini

12 (Best Friend Forever)

Patah Hati Terhebat

A Sucker for LOVE (JANGAN DIBACA)