Kisah Kejauhan

Coba tanya hatimu sekali lagi
Sebelum engkau benar-benar pergi
Masih kah ada aku di dalamnya
Karena hatiku masih menyimpanmu
Kisah kita memang baru sebentar
Namun kesan terukir sangat indah
Aku memang bukan manusia sempurna
Tapi tak pernah berhenti mencoba
Membuatmu tersenyum
Walau tak pernah berbalas
Bahagiamu juga bahagiaku
Saat kau terlalu rapuh
Pundak siapa yang tersandar, tangan siapa yang tak melepas
Ku yakin aku
Bahkan saat kau memilih
Untuk meninggalkan aku
Tak pernah lelah menanti, karena ku yakin kau akan kembali
Meskipun engkau tak akan kembali…
Fiersa Besari- “April”

Aku bertemu seseorang. Tak dapat ku pandangi, tak dapat ku sentuh, tak dapat ku temui.
Salah satu penulis favorit ku memiliki seorang kawan, dan kawannya itulah orang yang baru saja ku temui. Sudah ku bilang dia tak dapat ku temui secara langsung. Ya, memang aku mengenalnya dari salah seorang kawanku.

Bukan hanya aku orang yang baru saja dia temukan di deretan komentar akun instagramnya. Banyak orang lain yang berkicau disana hanya untuk meminta “followback” darinya. Selain dia salah seorang kawan dari kawanku, aku mengagumi sosoknya. Seorang muda yang sekarang sudah bisa bekerja sama dengan salah satu penulis favoritku karena bakat yang dimilikinya. Dan ya, dia jauh di pulau seberang.

Entah apa yang terjadi dengan alam semesta saat ini, sepertinya mereka sedang ingin melihatku bahagia. Entah untuk waktu yang lama atau hanya untuk sementara, tapi aku berterimakasih untuk hal itu.

Semua dimulai dari social media yang saat ini sangat diandalkan untuk mendekatkan yang jauh, dan mengenal siapa yang sebelumnya tak dikenal. Entah harus merasa beruntung karena aku termasuk dalam bagian kemajuan teknologi seperti sekarang dengan berbagai keuntungan yang kita dapat, atau malah merasa miris dengan beberapa dampak negatif yang juga didapatkan dari kemajuan teknologi ini. Tapi saat ini selayaknya aku merasa beruntung. Berlandaskan rasa kagum yang begitu tinggi aku memberanikan diri mengiriminya pesan ke akun line miliknya yang aku colong dari handphone milik kawanku. Menyadari siapa diriku sebenarnya, aku tak terlalu berharap kalau pesanku saat itu akan dibalas. Namun ternyata dia mau dengan sudi membalas pesan dariku. Berawal dari perkenalan seperti anak muda kebanyakan, mulai saat itu balas membalas pesan melalui line dengannya menjadi kesibukanku selama beberapa hari. Tidak hanya itu, beberapa kali juga dia menyempatkan diri untuk menelfonku secara langsung. Membicarakan mengenai aktifitasnya, aktifitasku, kesibukan dan tanggung jawabnya, dan hal random lainnya yang selalu bisa memeriahkan suasana.

Menurut kalian, perasaan apa yang seharusnya ku miliki saat itu?
“Jangan baper!” logikaku selalu mengingatkanku. Memang tidak seharusnya aku memiliki perasaan apa-apa selain teman. “Jangan merusak hubungan baik yang sudah susah-susah kau bangun!” akupun mengerti akan hal itu. Mulai dari saat itu aku janji akan terus menjaga perasaan yang ku miliki terhadapnya, tidak lebih dari sekedar penggemar ke idolanya.

Entah apa yang dia rasakan dari kejauhan sana. Rasanya perasaanku mulai sedikit gusar. Nampaknya dia ingin dirinya kembali menjadi pemenang dalam pertempuran ini. Pertempuran yang kembali lagi ku alami, pertempuran antara logika dan perasaan. Untuk waktu-waktu dan kisah-kisah yang sudah lewat, aku membiarkan perasaanku mendominasi dan menjadi pemenangnya. Namun tetap saja di akhir kisah-kisah itu perasaankupun yang menjadi korbannya. Rumahnya hancur sampai-sampai butuh waktu lama untuk memperbaiki ruang merah mudaku. Butuh waktu lama untuk kembali berdiri di atas kedua kakiku sendiri dan berjalan lagi. Demi ruang merah mudaku, aku akan memperjuangkan logikaku! Tak akan ku biarkan lagi perasaanku terlalu mendominasi di atas kisah ini.

Kisah ini memang baru sebentar namun kesan terukir sangat indah, mungkin hanya aku yang merasakannya dari tempat ini, entahlah bagaimana dengan dia. Terlalu berlebihan rasanya untuk mengatakan bahagiamu juga bahagiaku. Mengetahui apakah dia bahagia saat bisa berbicara dengan ku saja aku tidak tau. Saat dia terlalu rapuh aku tak tau pundak siapa yang selalu tersandar untuknya di kejauhan sana, bahkan tangan siapa yang tak pernah melepaskan genggamannya. Yang bisa ku lakukan hanyalah memberikan semangat dan doa. Tanganku tak mampu menggenggamnya, bahuku  tak pantas untuk menjadi sandarannya. Itu yang aku rasakan. Entah pada akhirnya aku atau dia yang akan memilih untuk meninggalkan kisah kejauhan ini namun aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjalaninya sampai akhir. Namun jika menunggu menjadi hal yang terlalu bertele-tele dan memakan waktu yang lama sehingga memungkinkan perasaanku merangkak naik dari tempatnya yang semula (di bawah logika) aku tidak akan menunggu akhir. Aku akan membuat akhir-nya. Baik atau buruk, menyakitkan atau tidak, layak dikenang atau tidak. Karena pada saat itu aku tau kalau aku telah membuat suatu kisah dengannya.


Sebuah kisah kejauhan ini(mungkin) belum selesai…

Komentar

  1. Bagus tulisannya, punya satu bakat lagi. Sepertinya saya tau siapa yang dimaksudkan (masih menduga). Ditunggu tulisan selanjutnya dan jangan lupa tampilan blognya diperbaharui biar lebih tertarik lagi orang berkunjung dan baca tulisan-tulisannya. Semangat !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hati-hati sama pantoanya yaa pak haha
      btw makasih kak.iya nnti d perbarui:D

      Hapus
  2. Setelah dibaca, nampaknya si pengagum raditya dika sedikit menikuk ke tulisan ala ala fiersa kayanya hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. yayaya benar. Makasih sekali lagi sudah mengenalkn bung kepada sy kaka iim😊 hehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

12 (Best Friend Forever)

Patah Hati Terhebat

A Sucker for LOVE (JANGAN DIBACA)